Festival kembang api musim panas, aku ingin pergi melihatnya. Namun, inilah aku, menggerakkan satu jari kakipun aku tak mampu.
Lumpuh total kedua kakiku sejak lahir membuat aku menghabiskan sepanjang hari di atas tempat tidurku.
“tok, tok, tok” terdengar ketukan pintu kamarku, dari balik
pintu muncullah wanita itu, wanita yang melahirkanku.
Walau begitu tiada sebersitpun perasaan benci untuknya, aku
mencoba mensyukuri kehidupan yang telah diberikan tuhan untukku.
“Angel makan dulu nak”
Angelina itulah namaku, yang berhati malaikat harapan dari
kedua orang tuaku.
Ibuku menyodorkan sendok berisi makanan dan aku menerimanya
dalam diam, karena inilah aku seorang pendiam bahkan terhadap orang tuaku.
“Istirahat yang banyak ya nak” ibuku mengusap pucuk kepalaku
berlalu meninggalkan kamarku.
“Pyaar” mataku membulat sempurna melihat bola kaki menerobos
masuk kamarku memecahkan kaca jendela yang menghadap ke jalan komplek.
“Angelina, apakah ada bola kaki di kamarmu?” Teriakan ibuku
menyadarkanku bahwa sang pemilik tengah mencarinya.
“Ah, disini rupanya” ibuku masuk mengambil bola kaki
tersebut diikuti seorang pria, selama aku hidup 17 tahun ini pertama kalinya
aku melihat orang lain selain keluargaku, aku memang tidak memiliki teman,
karena memang tidak akan ada yang mau berteman dengan ku.
“Ya Tuhan, kaca jendelanya pecah” sepertinya ibuku baru
menyadarinya, ku lihat pria tadi membungkuk meminta maaf kepada ibuku dan
mereka berdua mengabaikanku sang pemilik kamar yang dirusak.
Aku berdehem dengan sengaja agar mereka menyadari
keberadaanku “ah, nak Bryan kenalin putri satu-satunya tante, Angelina. Kamu
minta maaf aja ke dia, karena dia pemilik kamar ini” ibu menunjuk kearahku
“mmm, Lina maaf ya, aku nggak sengaja”
Sebenarnya dia berniat minta maaf gak sih, kok
senyam-senyum nggak jelas gitu
“Angel jangan diam aja” Nah loh, ibuku mulai protes soal
kebiasaan diamku
“Ya” akhirnya aku mengeluarkan suara
“ya apa?” ucap ibuku dan pria yang tadi dipanggil ibuku
dengan sebutan Bryan secara bersamaan
“ya, aku maafin” aku kesal sekali, karena mereka berdua
mengganggu ketenanganku.
Aku menghembuskan nafas lega saat kulihat ibuku dan Bryan
pergi meninggalkan kamarku, setidaknya kamarku kembali tenang
*******
Ke-esokkan hari
Mataku melotot kala melihat Bryan berada dikamarku, dan
berkata bahwa dia akan menjadi temanku mulai dari sekarang, aku tidak menolak
namun tidak pula menerima, aku memilih diam dan mengabaikan setiap ucapan yang
dia lontarkan.
“aku akan datang lagi besok, semoga kamu tidak merindukanku
dalam tidurmu” aku hanya menanggapi dengan mengerucutkan bibirku “sampai
bertemu besok Lina” dan diapun menghilang dari balik pintu kamarku
*******
2 minggu kemudian
“Lina maukah kamu menotonku bertanding sepak bola?”
“mengapa aku...” tanyaku pada Bryan
Dalam kurun 2 minggu ini, Bryan sudah berhasil membuatku
merasa nyaman, dan tanpa kusadari sikap dinginku padanya mulai berkurang
“hmmm karena kamu adalah my angel yang selalu bersinar, jika
kamu pergi menontonku pasti aku akan semakin semangat bertanding”
Aku terdiam mendengar alasannya ditambah sikapnya yang
terlihat malu-malu saat mengatakannya, dan apa katanya tadi ‘my angel?’
“tapi, bagaimana?” ya bagaimana gadis lumpuh sepertiku
sampai kesana?
“tenang saja, biar aku yang mengatur semuanya” oke dia yang
akan mengaturnya dan aku hanya pasrah “baiklah”
Hari pertandingan
“ayo tendang!!!” “jangan sampai kebobolan” “cepat rebut
bolanya”
Aku menutup telingaku rapat-rapat. Suara bising disekitarku
sangat mengganggu, aku menyesal dengan keputusan yang kubuat dengan datang ke
stadion sepak bola tempat Bryan bertanding
“priiiiitttt” peluit panjang berakhirnya bertandingan
membuatku tersenyum lega
“Lina” kutolehkan kepalaku melihat Bryan berlari kearahku
“selamat” ucapku datar saat Bryan sudah didekatku
“eh, iya terima kasih”
Aku terhenyak melihat reaksinya yang menurutku berlebihan,
Bagaimana mungkin dia terlihat bahagia hanya karena ucapan
selamat dariku
“Lina, nanti malam aku aku akan mengajakmu pergi kesuatu
tempat” ucapan Bryan mengundang tanya dikepalaku, tapi aku memilih
menganggukkan kepala daripada menyuarakan isi kepalaku yang penuh tanda tanya
kebingungan
*****
“selamat malam Tante, Linanya sudah siap?” Aku mendengar suara Bryan dari arah pintu
masuk
“sudah sangat siap, Tante sudah mendandani Angel secantik
mungkin agar kamu terpesona”
Aku cukup kesal dengan ucapan yang di lontarkan ibuku, tidak
ada orang yang menganggap diriku cantik sekalipun saat ini aku mengenakan yukata
karena aku hanya gadis cacat
“wah Tante, Lina cantik banget” pujian Bryan membuat aku
kembali ke dunia nyata. Aku baru tersadar kalau ibuku dan Bryan sudah berada
didepanku
“boleh tidak, kalau semisal saya mendaftarkan diri jadi
calon mantu Tante?” aku melotot ke arah Bryan ketika mendengar kata-kata ngaco
yang keluar dari mulutnya
“hahahaha, kalau itu terserah Angel saja. Tante ngikut”
Ibuku mengatakannya disela tawa
Aahhh aku kesal dengan mereka,,,,,,
“yaudah Tante, saya bawa Lina dulu” pamit Bryan
“jangan pulang terlalu larut, dan jaga Angel” pesan ibuku
kepada Bryan
“siap tante” Bryan mengalihkan pandangan kearahku “ayo
berangkat” dan kemudian Bryan mendorong kursi rodaku tanpa menunggu persetujuan
dariku
*****
“sudah sampai, aku bantu turun” Bryan turun dari mobil
kemudian mengeluarkan kursi roda, Bryan membukan pintu mobil dan menggendongku
ala bridal style lalu mendudukkanku di atas kursi roda
“ini......dimana?” akhirnya Aku tidak tahan untuk tidak
bertanya
“nanti kamu pasti tau sendiri, dan kupastikan kamu akan
menyukainya”
Penjelasan Bryan hanya membuat kekesalanku kembali lagi.
Bryan membawaku menjauh dari kumpulan kios-kios penjual
makanan. Bryan berhenti tepat diatas bukit yang terletak tidak jauh dari
kios-kios tadi.
Dia menurunkan ku dari kursi roda dan memposisikan dudukku
diatas tanah beralaskan rumput, dan kemudian Bryan ikut duduk disampingku
Hening, tidak ada percakapan yang terjadi di antara kami.
Hingga......
“Lina, ada yang ingin aku bicarakan sama kamu” Bryan
menatapku dengan raut wajah yang tak terbaca. Dan aku pun hanya memiringkan wajah
menunggu kalimat selanjutnya
“aku-“
“DUAARR” suara ledakan membuatku mengalihkan pandangan dan
menatap langit
Kembang api meledak di langit, disusul kembang api yang
lain.
Ini seperti mimpi, aku bisa melihat kembang api secara
langsung
“Bryan ini....” aku tak mampu meneruskan ucapanku, air
mataku keluar begitu saja. Aku senang
“Angelina” panggil Bryan. Dapat kurasakan tangannya
menggenggam kedua tanganku
“lihat aku!” suara tegasnya membuatku spontan melihat
kearahnya
Dari jarak sedekat ini dapat kulihat mata teduhnya yang
selalu memberi ketenangan setiap kali aku melihatnya. Yang selalu sabar
mengahadapi sifat keras kepalaku, sungguh beruntung aku bisa berteman dengannya
“aku tau, mimpimu adalah bisa melihat kembang api di musim
panas”
Aku terkejut, bagaimana Bryan mengetahuinya? Ayah dan ibu
saja tidak tahu soal keinginanku ini, apakah aku tanpa sadar pernah bercerita
pada Bryan?
“karena itu, maukah kamu tahun depan dan seterusnya melihat
kembang api bersamaku..... sebagai pacarku?”
APAAAA!!!! Apakah Bryan baru saja mengungkapkan persaannya?
Tunggu, apakah aku juga mencintainya?
Kutatap mata Bryan, ada keseriusan yang kutangkap di matanya
“ya, mari kita pergi tahun depan sebagai sepasang kekasih”
aku tersenyum kearahnya, aku mencintainya, aku tahu itu. Tapi ku pikir itu
hanya cinta yang takkan pernah terbalaskan
Bryan balas tersenyum lebar, dia memelukku dengan erat
sembari mengungkapkan betapa bahagianya dia saat ini
Ahhh, sepertinya hari penuh kesendirianku telah usai.
Hari ini, esok dan selamanya. Aku tidak akan sendirian lagi,
ada Bryan yang selalu menemaniku kelak
~TAMAT~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar